Yulia, seorang gadis panggilan berusia 20 tahun di Kiev, menanti Euro 2012 dengan cemas. Antara gembira dan takut. Dia menaikkan harga layanannya dengan harapan penghasilan yang didapat cukup untuk kuliah tahun depan.
“Tetapi setiap gadis takut, Apa pun bisa terjadi,” ujarnya.
Ukraina dikenal dengan industri prostitusi. Penelitian Berlin Studienkolleg zu Berlin di Ukraina, Jerman dan Prancis terhadap 4.000 siswa mendapati betapa siswa di Kiev sangat permisif terkait profesi jual kehangatan itu.
Tak heran, penjaja jasa ini bisa dengan mudah ditemukan di jalanan, bar dan hotel di empat kota yang jadi tuan rumah Piala Eropa. Target mereka serupa, menangguk untung besar dari ratusan ribu penggemar sepak bola yang berkumpul di negeri itu.
Para ahli memperingatkan tentang risiko tinggi tertular penyakit menular seksual. Maklum 1,1% dari populasi orang dewasa di Kukraina dan hampir satu dari 10 pelacur di negara itu terinfeksi HIV.
“Mereka akan bermain rolet Ukraina,” kata Kostiantyn Pertsovskyi, jubir International HIV/AIDS Alliance di Ukraina. Kantor Kostiantyn membagikan hampir 1 juta kondom untuk penggemar bola dan pelacur selama turnamen.
Piala Eropa dimulai Jumat, 8 Juni, sampai 2 Juli 2012, dengan dua negara sebagai tuan rumah, yakni Polandia dan Ukraina. Sebanyak 16 tim berlaga dalam kejuaraan bergengsi ini. La Strada, aktivis hak kelompok perempuan Ukraina, yang sangat peduli tentang peningkatan prostitusi di bawah umur menunjukkan adanya lonjakan jumlah pelacur-pelacur cilik.
Yulia, yang menolak memberikan nama belakangnya, mengaku dilatih kata-kata bahasa Inggris oleh mucikarinya sebagai modal komunikasi dengan calon klien. Dia juga dibekali pakaian baru baju mencolok dan sepatu hak tinggi. Dia juga telah belajar apa yang dia sebut “tata krama Eropa.”
Selama Piala Eropa, Yulia menaikkan argo layanan per jamnya hingga 600 hryvna atau setara US$75 hingga 900 hryvna setara US$115. Yulia berharap bisa menabung demi kuliah tahun depan di bidang musik. Dia bermimpi untuk menjadi seorang penyanyi.
Yulia datang ke Kiev untuk keluar dari kemiskinan yang membelenggunya di selatan Ukraina karena kedua orang tuanya menganggur. Tanpa pendidikan dan keterampilan, hanya menjual tubuh pilihan Yulia untuk bertahan hidup sejak usia 18 tahun.
Saat ini pendapatan Yulia sekitar 10.000 hryvna setara US$1.250 per bulan. Dalam sehari Yulia melayani sekitar 2-3 klien di hotel, apartemen, atau bahkan di mobil. Pendapatan Yulia jelas menggiurkan karena umumnya pendapatan rata-rata penduduk Ukraina hanya 3.000 hryvna atau setara US$375. Tentu, uang itu ada harganya.
“Secara fisik, moral, psikologis sangat sulit. Setiap klien memerlukan pendekatan khusus. Anda perlu menyenangkan semua orang,” kata Yulia saat datang ke pusat dukungan di pinggiran Kiev untuk pemeriksaan kesehatan dan kondom gratis.
”Ini tidak mudah, lanjutnya, selalu ada rasa takut,” ujar Yulia mengenang pernah mendapatkan permintaan untuk datang ke sebuah flat di Kiev dan ternyata dua orang pria tersebut memperkosanya. “Aku tidak bisa kabur. Jadi aku hanya menutup mata.”
Di Ukraina, pekerja seksual di bawah umur jarang diperlakukan sebagai korban penganiayaan anak atau kerja paksa, melainkan sering dihukum dan dilecehkan untuk terlibat dalam prostitusi.
Padahal sejatinya, jasa layanan seksual merupakan pelanggaran dan bisa dihukum denda sekitar US$20. Agar aman, pelacur harus memberi upeti bagi polisi dengan uang dan seks.
“Di negara kami, anak-anak memberikan layanan seksual tidak dianggap sebagai korban melainkan sebagai pelaku,” kata Mariana Yevsyukova, seorang ahli hukum La Strada.
Para pejabat Ukraina sendiri tak terlalu peduli dengan pelacuran di bawah umur. Mereka juga tak peduli dan tidak berbuat banyak untuk mengubah citra Ukraina sebagai tujuan utama bagi wisatawan seks dan belanja pria untuk pengantin pesanan.
Kesal dengan tingkat pemerintah, Femen, gerakan hak perempuan yang kontroversial di Ukraina sudah menjanjikan teror untuk mengganggu Euro 2012.
“Ukraina telah berubah menjadi rumah bordil besar, pusat Eropa untuk wisata seks, dan wanita Ukraina akan menderita, perempuan Ukraina akan menjadi budak seks selama Euro 2012,” tukas Inna Shevchenko, seorang aktivis Femen.
Lepas dari kontroversi yang ada, Yulia mengaku menyimpan harapan suatu hari nanti salah satu kliennya bisa jatuh cinta dengan dia dan membawanya pergi dari Ukraina, seperti yang terjadi pada Julia Roberts dalam film Pretty Woman









